‘Dukun Pateh’ dari Cikini

Berhadapan dengan stasion kereta api Cikini, Jakarta Pusat, terletak sebuah pasar yang dikelilingi pertokoan dan gedung modern. Seperti juga nama stasion, Pasar Cikini dulunya hanya merupakan pasar tradisional seperti yang banyak terdapat di Jakarta. Entah sudah berapa lama keberadaan pasar ini. Tapi, jelas lebih tua dari gedung bioskop Metropore (kini Megaria) yang
berada di dekatnya. Bioskop yang pernah menjadi bioskop termegah di Jakarta itu dibangun tahun 1950.Memasuki pasar Cikini, yang juga menampung puluhan pedagang kembang warga Betawi yang sudah turun menurun berjualan di sini, terdapat Gang Ampiun, terletak di sebuah gang kecil. Di Gang Ampiun No 10 terdapat sebuah rumah yang banyak didatangi orang — dari pagi hingga malam. Mereka datang untuk pengobatan patah tulang atau keseleo. Di rumah inilah dulu Haji Asmawi bin H Jasim membuka prakteknya. Karena banyak mengobati mereka yang menderita patah tulang, dia lebih dikenal sebagai ‘dukun patah’. Sedang orang Betawi menyebutnya ‘dukun pateh’.

Waktu itu, ketika Haji Asmawi mulai buka praktek pengobatan patah tulang, di Jakarta belum dikata belum banyak dokter spesialis tulang. Mungkin jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Pengobatan tulang di Cimande juga belum dikenal. Kala itu, banyak pemain bola termasuk dari klub-klub Persija, bila patah tulang dan keseleo akibat benturan, pergi ke H Asmawi.

Setelah Haji Asmawi meninggal dunia tahun 1972 dalam usia 71 tahun, praktek di Gang Ampiun, Cikini, diteruskan oleh putrinya, Ibu Nasidah, dan cucunya, H Darajatullah. Sementara, salah seorang putranya, dr Sufat, yang mendapatkan pendidikan dokter dari Jerman, membuka praktek di Jl Cirebon, Menteng, Jakarta Pusat. Tiap hari banyak pasien termasuk penderita patah tulang yang datang ke prakteknya.

Seperti dikemukakan putranya, H Paisal Kamal (70 tahun) yang kini menjabat Ketua Yayasan STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) di Rawamangun, keahlian ayahnya memang diikuti para keluarga. Haji Asmawi yang memiliki 18 putra-putri dari tiga istri, kata dokter Paisal, semuanya bisa mengobati penderita patah tulang. Bahkan para istrinya juga bisa mengobati mereka yang patah tulang dan keseleo.

Saya sendiri, sekitar tahun 1950 saat bermain sepakbola ‘Anak-anak Gawang’ di Gambir (kini Monas), menderita patah tulang tangan kiri setelah bertubrukan dengan lawan. Oleh kawan-kawan saya langsung di gotong ke Cikini. Alhamdulillah, setelah berobat selama sebulan dan datang tiap minggu, tulang tangan saya yang patah nyambung kembali.

Sekitar tahun 1969 ketika mengendarai skuter Vespa dari kantor berita Antara, saat hendak membelok ke Jl Pintu Air depan Istiqlal, tiba-tiba diserempet sebuah mobil. Sayapun terjatuh, dan Vespa menimpa dengkul saya hingga retak. Oleh kawan-kawan Antara, saya pun digotong dan dibawa ke Haji Asmawi. Setelah sekitar dua bulan, tulang knee (dengkul) yang retak itu sembuh. Untuk beberapa lama saya dianjurkan untuk memakai knee decker seperti yang biasa dipakai pemain volley dan basket.

Memang, dalam pengobatan terhadap mereka yang menderita patah tulang, oleh Haji Asnawi, tidak ada yang di-gips seperti di rumah-rumah sakait. Cukup diperban setelah sebelumnya diurut dengan minyak (tradisional). Kemudian diberikan jamu yang menurut cucunya, drg Azizah, ramuannya dibuat oleh kakeknya sendiri.

Lalu para pasiennya diharuskan melakukan sejumlah pantangan yang benar-benar harus dihindari. Seperti kacang-kacangan, nanas, telur, cumi, udang, rajungan dan sejumlah makanan lainnya. Menurut putranya, dr Paisal Kamal, pantangan dimaksudkan agar penderita tidak gatal-gatal dan batuk-batuk. Karena, bisa berakibat buruk.

Dalam melaksanakan pengobatan, seperti yang saya alami, Haji Asmawi yang selalu berpeci hitam, kadang-kadang bersuara keras, seperti memarahi pasiennya. Dalam hal ini dia tidak pandang bulu, apakah pasiennya tukang becak atau pejabat tinggi dan orang kaya. Pasien, setelah diurut, dipaksa jalan serta mengangkat kaki yang sakit. Kecuali pasien yang patah tulang, baru setelah tiga minggu berobat dipaksa berjalan atau mengangkat tangan yang patah.

Menurut dr Paisal, itu untuk mempercepat penyembuhan. ”Karena itulah ayah berbicara keras, guna mendorong keberanian si pasien,” ujarnya. Dan, umumnya yang berobat kepadanaya, hampir semuanya sembuh. Di samping menularkan pengobatan patah tulang kepada putra-putri dan para cucu, Haji Asmawi juga berhasil dalam mendidik mereka. Seperti H Paisal, disamping mengajar di perguruan tinggi, juga membuka pondok pesantren di Ciawi, Bogor. Beberapa putranya juga jadi sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. Sedangkan cucunya ada yang jadi sarjana hukum, sarjana ekonomi, dan lulusan AKABRI.

Haji Asmawi membuka praktek sejak 1948, saat ia berusia 47 tahun. Seperti juga kebanyakan warga Betawi yang keadaannya cukup mampu kala itu, Haji Asmawi pernah bermukim di kota suci Makkah selama dua tahun. Di sini dia banyak belajar dari sejumlah ulama di Masjidil Haram. Sepulang dari tanah suci, dia tidak langsung membuka pengobatan patah tulang, tapi selama beberapa waktu memberikan pelajaran agama. ”Terutama dalam ilmu nahwu (tatabahasa),” kata Paisal.

Baru setelah buka praktek pada 1948, dia lebih banyak mengabdikan diri pada pengobatan patah tulang. Maklum begitu banyak yang berobat, hingga ia buka praktek dari pagi sampai malam. Yang unik, seperti dituturkan putranya, almarhum memiliki keahlian mengobati penyakit patah tulang sudah tujuh turunan. Jadi kemungkinan keluarga ini memiliki keahlian demikian sejak abad ke-18. Mungkin hampir sama dengan usia kota Batavia (Betawi).

(Alwi Shahab/as)